Minggu, 05 Desember 2010

Analisis prosa, puisi dan drama

PROSA FIKSI (CERPEN)

Pengemis Misterius

Gila! Orang itu benar-benar tak punya malu. Dasar dekil. Gembel. Bayangkan, bagaimana hati tak dongkol, beberapa hari yang lalu, ia memelas kepadanya. Kemarin begitu, kemarinnya juga begitu. Sekarang pagi-pagi sudah absen di depan mata.

Badrun gondok setengah mati. Ia masih ingat betul peristiwa beberapa hari yang lalu. Pengemis gembel itu memelas dengan kata-kata mengiba.

“Bang, minta sedekahnya, Bang..amal, Bang... tolong..buat makan, Bang..”

Badrun gelagapan. Padahal ia belum mendapat order satu barang pun; sebuah sendal kulit, sepatu, tas, atau apa saja yang bisa mendatangkan rupiah.

“Tolong, Bang... sedekahnya”

“Aduh! Sabar kek kenapa, sich?” gerutu hati Badrun. Tangannya masih lincah mencari-cari uang recehan di dalam laci. Tidak ada. Hanya ada uang logam kecil sebesar kancing baju. Seratus perak. Badrun tak tega memberi uang sekecil itu. Tak sampai hati. Apalagi zaman sekarang orang-orang sudah sangat peka terhadap nilai uang. Era globalisasi rupanya sudah mengubah watak dan sikap manusia terhadap sesuatu yang bernama materi. Tidak di kota, tidak di desa. Juga pengamen dan pengemis gembel itu. Badrun pernah menyaksikan seorang pengamen melempar uang logam hasil pemberian orang.

“Huh! Emang gue ini siape? Masa Cuma dikasih cepe. Keterlaluan. Buat beli rokok sebatang pun ta dapat,” kata pengamen itu kepada temannya.

“Gocap juga uang, kok...” Balas temannya sambil tertawa.

“Semprul, lu!”

“Mungkin dia tidak punya uang kecil selain cepean itu. Masih untung orang itu mau memberi.”

“Tampangnya saja bonafid, tapi pelitnya minta ampun. Masa suara gue Cuma dihargai cepe. Terlalu. Padahal, saya sengaja memilih lagu terbarunya Broery Marantika. Padahal, suaraku lebih merdu dari suaranya Doel Sumbang. Padahal, kita pernah menjuarai festival ngamen se-kecamatan ya, Jim”

“Ya, ya... tapi jangan ngoceh terus. Yuk kita cari order lagi!”

Badrun tak habis pikir. Rupanya pengemis (juga pengamen) sekarang punya hukum tak tertulis tentang standar upah minimum mengemis dan mengamen.

Badrun mengambil dompetnya yang sudah lecek. Satu lembar ratusan berwarna merah terselip dalam dompetnya. Sekarang ia tak perlu pusing-pusing lagi. Dan yang terpenting agar orang tua dekil itu segera berlalu di hadapannya.

Sebenarnya Badrun bisa saja menolak (bukan berarti mengusir) secara halus. Bilang saja tidak ada uang kecil. atau, maaf Pak pengemis, saya belum dapat order. Atau saya lagi bokek. Lain kali saja, ya..gitu! Namun hati kecilnya tak mampu untuk melakukannya. Untuk berbohong pun, ia tak sanggup. Apalagi sekarang adalah bulan suci.

Almarhum ayahnya pernah berpesan agar selalu berbuat baik terhadap sesama. anak yatim dan peminta-minta, jangan dihardik, apalagi diusir. Kalau toh tak mampu memberi, katakan dengan cara yang sopan dan lemah lembut.

Wejangan ayahnya itu terus terekam dalam hatinya. Seperti sebuah “amanat” yang harus dipikulnya kelak. Memang benar, karena beberapa tahun setelah kematian ayahnya, Badrun ditinggal mati oleh istri tercinta, Siti Rahimah. Badrun sangat kehilangan. apalagi anak-anak yang ditinggalkannya masih kecil.

Bagi Badrun, istrinya bukan saja pelipur di kala duka, tetapi ikut juga membantu secara ekonomis. untuk memenuhi hajat keluarga, istrinya berjualan rujak uleg dekat Pasar Kramat. Jerih payah istrinya itu sangat membantu. Apalagi ketika Badrun menganggur setelah becak dilarang beroperasi. Setelah menganggur, Badrun mencari kebutuhan hidup dengan usaha lain di kota ini.

Badrun memberi uang kepada pengemis. Dengan rasa suka cita, pengemis segera berlalu hingga hilang ke tengah keramaian pasar.

Besoknya pengemis datang lagi. Saat itu matahari sudah berada di atas ubun-ubun langit. Udara kota menyengat pori-pori bumi.

Binatang melata menggelepar-gelepar kepanasan di atas aspal. Peluh dan keringat jatuh bercucuran.

Badrun menyeka peluh di wajahnya. Hampir setengah hari ia menunggu. Namun tak seorang pun yang lewat memberikan order jahitan. Badrun gelisah. Terbayang satu per satu wajah anak-anak yatim di rumahnya. Mereka menunggu rezeki dengan harap-harap cemas. Apalagi sekarang mendekati lebaran Idul Fitri.

Dalam kegamangan dan penantian yang panjang, muncul pengemis mirip kakek-kakek. Badrun sangat mengenalnya karena hampir setiap hari ia datang meminta kepadanya.

Pengemis itu sudah uzur. Badannya setengah bungkuk. Pakaiannya compang camping tak karuan. ia berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan tongkat penyangga. Lama sekali ia mendekatseperti jalannya kura-kura. Ia berjalan sambil menahan sebelah kakinya yang pincang.

Entah mengapa, ada perasaan iba yang menusuk-nusuk hati Badrun. Syukurlah, selama ini ia tak pernah menolak permintaannya. Tidak seperti pemilik toko sebrang jalan yang sering menolak pengemis itu. Atau pemilik toko di sudut jalan yang membiarkannya menunggu berlama-lama di depan toko hingga membuat pengemis segera berlalu dengan tangan hampa.

Badrun mengamati pengemis itu. Tiba-tiba ia terjatuh di dekat trotoar kaki lima. Hampir saja ia terjerebab dalam blumbangan kotor. Badrun segera berlari memberikan pertolongan.

“Bapak siapa?” tanya pengemis. Wajahnya tampak lelah.

“Saya Badrun. Tukang sol.”

“Oh.. nama yang sungguh indah. Tuan seperti bulan purnama yang menerangi jiwaku.”

Badrun kaget. Ia sendiri tidak begitu perduli dengan namanya. Yang jelas, emaknya pernah cerita bahwa ia dilahirkan pada malam bulan purnama. Untuk itu dinamai Badrun. Bulan purnama!

“Bapak siapa?” Badrun balik bertanya.

“Saya Ibnu Sabil.”

“Datang dari daerah mana?”

“Saya datang dari Negeri Samawat, negeri yang sangat jauh. Sudahlah.. e, maaf sekedar bertanya, Bapak puasa?”

“Oh,...tentu. Itu kewajiban saya selaku muslim. Saya melaksanakannya semata-mata mengharap ridha Allah.”

“Baarokallah. Semoga Allah melipatgandakan pahala puasamu.”

Kemudian keduanya terdiam. Lama. Udara semakin meranggas. Pengemis mendengus. Wajahnya tampak semakin lelah. Namun, dia balik semua itu Badrun melihat keanehan pada wajah pengemis. Sinar matanya penuh wibawa. Tampak bukan seperti pengemis,

“Di kota ini, orang sepertiku dianggap seperti kuman penyakit menular. Kota ini sungguh tak bersahabat,” kata pengemis melanjutkan pembicaraan.

“Kami benar-benar tak mengerti. Padahal di kota ini banyak bermunculan pengemis-pengemis profesional dengan segudang fasilitas yang nyaman lagi aman. Mereka berkeliaran bebas tanpa rasa takut dan cemas. Tidak seperti kami yang sering diusir, dikejar-kejar seperti anjing gila.”

“Maksud Bapak, mereka itu siapa?”

“Bapak tak kan mengerti karena Bapak bukan pengemis. Bapak bukan tipe manusia yang suka mengemis. Manusia sehat, kuat tapi pemalas. Manusia yang bisanya mengharap uluran tangan orang lain. Mereka benar-benar pengacau. Karena ulah mereka, kami kena getahnya. Bersama mereka, kami dikejar-kejar petugas razia.”

Badrun semakin heran. Pengemis itu bukan orang sembarangan. Mungkin pelancong yang sedang kehabisan ongkos. Lalu mengemis untuk biaya pulang ke negerinya. akan tetapi, untuk berapa lama? Atau jangan-jangan ia adalah utusan gaib untuk menguji iman manusia di bulan suci ini?

“Di kota ini, orang yang peduli kepada kami hanyalah sedikit jumlahnya. Bapak termasuk orang yang sedikit itu. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak selama ini. Dan... ini sekedar pemberianku yang tulus ikhlas. Kutitipkan untuk keluarga Bapak di rumah.”

Orang tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan. Isinya lembaran-lembaran uang. Cukup banyak jumlahnya.

“Pak Badrun, saya mohon terimalah pemberianku ini.”

Badrun terkesima. Orang tua di depannya, bagaikan sebongkah magnet yang memencar.

Daya magnetnya begitu kuat. Badrun terhipnotis. Ia menerima bungkusan itu. Tanpa banyak komentar, tanpa banyak reaksi, tanpa bicara sepatah kata. Badrun benar-benar terkesima.

“Pak Badrun... Bapak adalah purnama yang menyinari kota ini. Assalamu’alaikum...”

Orang tua itu segera berlalu. Jalannya cepat seperti kilat. Ia menghilang sebelum Badrun menyadari apa yang terjadi pada dirinya.

ANALISIS

Judul Cerpen : Pengemis Misterius

Pengarang : Saefulloh M. Satori

Sumber : Tukan, S.Pd Paulus. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia 2 . Jakarta : Penerbit Yudistira

Unsur Intrinsik

1. Tema :

Pada intinya cerpen ini mengisahkan kehidupan seorang laki-laki yang bernama Badrun. Badrun bekerja sebagai sol sepatu yang ditinggal mati oleh istrinya dan harus membanting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Badrun merupakan sesosok yang penuh belas kasihan, dan berhati besar. Walaupun ia tidak mempunyai uang, tetapi merelakan untuk membantu pengemis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tema cerita pendek ini adalah kedermawanan

2. Alur

Cerita pendek ini beralur maju , maksudnya pada awal ceritanya itu menjelaskan tentang kejadian yang dialami seseorang di saat ini. Bisa dilihat dari jalan cerita yaitu Badrun selalu berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan kerjaan jahit sepatu, walaupun belum mendapat langganan tetapi ia selalu berbaik hati memberi sedikit uang kepada pengemis atau pengamen, dan membantu ibnu sabil yang sedang kesusahan sampai suatu saat ia mendapat uang dari ibnu sabil tersebut atas kebaikan yang selama ini ia lakukan kepada setiap orang.

3. Ketegangan dan Pembayangan

Ketegangan dan pembayangan yang terkandung di dalam cerpen ini memiliki rangkaian kata atau rangkaian kalimat yang baik, merangsang, sehingga dapat menimbulkan ketegangan dan pembayangan. Ketegangan dan pembayangan cerpen ini terdapat pada paragraf berikut ini :

“Di kota ini, orang yang peduli kepada kami hanyalah sedikit jumlahnya. Bapak termasuk orang yang sedikit itu. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bapak selama ini. Dan... ini sekedar pemberianku yang tulus ikhlas. Kutitipkan untuk keluarga Bapak di rumah.”

Orang tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan. Isinya lembaran-lembaran uang. Cukup banyak jumlahnya.

“Pak Badrun, saya mohon terimalah pemberianku ini.”

4. Tokoh dan Penokohan

Ø Badrun merupakan tokoh yang sangat dermawan dan ringan tangan membantu terhadap sesamanya

Badrun mengamati pengemis itu. Tiba-tiba ia terjatuh di dekat trotoar kaki lima. Hampir saja ia terjerebab dalam blumbangan kotor. Badrun segera berlari memberikan pertolongan.

Ø Pengemis I merupakan tokoh yang tidak bersyukur atas apa yang ia dapatkan

“Huh! Emang gue ini siape? Masa Cuma dikasih cepe. Keterlaluan. Buat beli rokok sebatang pun ta dapat,”

Ø Pengemis II merupakan tokoh yang menerima apa adanya

“Mungkin dia tidak punya uang kecil selain cepean itu. Masih untung orang itu mau memberi.”

Ø Ibnu Sabil merupakan tokoh yang sangat baik dengan memberi imbalan atas kebaikan Badrun dan terus terang atas keadaan

Orang tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan. Isinya lembaran-lembaran uang. Cukup banyak jumlahnya.

5. Latar

Tempat yang menjadi latar cerita pendek ini adalah suasana di pasar dan trotoar kaki lima.

Tiba-tiba ia terjatuh di dekat trotoar kaki lima. Hampir saja ia terjerebab dalam blumbangan kotor. Badrun segera berlari memberikan pertolongan.

6. Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan oleh pengarang dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang ketiga yaitu nama ”Badrun”. Hal ini dikarenakan pengarang berperan sebagai pelaku yang serba tidak tahu. Pengarang tidak terlibat erat dengan peristiwa-peristiwa dan situasi yang muncul dalam cerita.

Badrun memberi uang kepada pengemis. Dengan rasa suka cita, pengemis segera berlalu hingga hilang ke tengah keramaian pasar.

7. Suasana

Suasana yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah suasana menjelang Idul Fitri dengan penuh harap-harap cemas karena Badrun belum mendapat orderan jahitan yang biayanya untuk anak-anaknya dirumah, dan cahaya matahari yang sangat panas

Saat itu matahari sudah berada di atas ubun-ubun langit. Udara kota menyengat pori-pori bumi.

Binatang melata menggelepar-gelepar kepanasan di atas aspal. Peluh dan keringat jatuh bercucuran.

8. Gaya Bahasa

Gaya bahasa yang dapat dijumpai pada cerpen ini yaitu penggunaan majas perbandingan yairu majas hiperbola, dan personifikasi. Majas Hiperbola yaitu gaya bahasa yang maknanya bersifat melebih-lebihkan sesuatu.

Contoh kalimat cerpennya : Udara semakin meranggas dan kota ini, orang sepertiku dianggap seperti kuman penyakit menular

Majas Personifikasi yaitu gaya bahasa yang maknanya itu mengumpamakan benda mati itu seolah-olah hidup. Contoh kalimat cerpennya : Saat itu matahari sudah berada di atas ubun-ubun langit.

Unsur Ekstrinsik

1. Latar belakang pendidikan sastrawan

Lulus dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni program Studi Bahasa Arab IKIP (UNJ) Jakarta, tahun 1991, Magister Agama Islam Fakultas Pasca Sarjana Universitas Islam Jakarta

PUISI

Waktu Perginya

Ia sedang dalam perjalanan pulang

naik entah kemana jauhnya

rasa hilang itu menyesakkan memang

namun Tuhan telah memberikan utusan

waktu perginya ...

Ia menyisihkan cinta

yang tak habis-habisnya ku reguk

lewat air hujan

lewat angin laut

lewat mentari esok

lewat mimpi malam

dan tatapan mata di setiap debur jantungku

awali pijakan

karya : Soorjo Sani S.

ANALISIS

Unsur Intrinsik

1. Tema : Kesedihan karena kehilangan

2. Amanat

Seseorang yang hidup, suatu hari nanti akan kembali kepada Penciptanya. Maka dari itu ikhlaskanlah kepergian orang yang kita kasihi, walaupun orang tersebut meninggal tetapi masih terkenang akan cinta yang telah orang itu berikan kepada kita semasa hidupnya

3. Citra / Pengimajian

Citra merupakan bentuk imajinasi yang dilukiskan oleh penulis agar dapat dihayati oleh pembaca dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan perasaan. Pada puisi tersebut, terdapat dua macam citraan yakni citraan puisi dari aspek penglihatan, dan perasaan yang ditimbulkan.

Citra Penglihatan

Ia sedang dalam perjalanan pulang

naik entah kemana jauhnya

Citra Perasaan

rasa hilang itu menyesakkan memang

namun Tuhan telah memberikan utusan

waktu perginya ...

Ia menyisihkan cinta

yang tak habis-habisnya ku reguk

lewat air hujan

lewat angin laut

lewat mentari esok

lewat mimpi malam

dan tatapan mata di setiap debur jantungku

awali pijakan

4. Rima

Rima merupakan persamaan bunyi yang terdapat pada awal, tengah dan akhir baris dalam puisi. Di dalam puisi ini tidak terdapat rima, puisi ini termasuk dalam kategori puisi baru yang tidak mengutamakan rima.

  1. Diksi

Diksi atau pilihan kata merupakan unsur penting di dalam penulisan sebuah puisi. Pilihan kata bukan berarti penyingkatan kalimat, tetapi harus jelas dalam menyampaikan makna.

Pada baris di bawah ini, secara jelas menceritakan bahwa penulis kesedihan dan keikhlasan pada keadaaan sekarang.

Ia sedang dalam perjalanan pulang

naik entah kemana jauhnya

rasa hilang itu menyesakkan memang

namun Tuhan telah memberikan utusan

Demikian pula pada baris yang lain juga menggambarkan kerinduan sang penulis.

waktu perginya ...

Ia menyisihkan cinta

yang tak habis-habisnya ku reguk

lewat air hujan

lewat angin laut

lewat mentari esok

lewat mimpi malam

dan tatapan mata di setiap debur jantungku

awali pijakan

Dari puisi di atas, kita dapat mengetahui bahwa puisi tersebut merupakan kesedihan hati dari penulis karena ditinggalkan oleh seseorang yang dikasihinya.

6. Irama

Irama adalah pergantian tinggi, rendah, panjang pendek, dan keras lembut pada ucapan bunyi. Pada puisi diatas, pengucapan bunyinya lembut dilihat dari kata-kata yang dipakai dalam puisi tersebut.

Ia sedang dalam perjalanan pulang

naik entah kemana jauhnya

rasa hilang itu menyesakkan memang

namun Tuhan telah memberikan utusan

waktu perginya ...

Ia menyisihkan cinta

yang tak habis-habisnya ku reguk

lewat air hujan

lewat angin laut

lewat mentari esok

lewat mimpi malam

dan tatapan mata di setiap debur jantungku

awali pijakan

7. Sudut Pandang

Dalam penulisan puisi tersebut, penulis menggunakan sudut pandang Orang ketiga yaitu “ia”

Ia sedang dalam perjalanan pulang

naik entah kemana jauhnya

rasa hilang itu menyesakkan memang

namun Tuhan telah memberikan utusan

waktu perginya ...

Ia menyisihkan cinta

yang tak habis-habisnya ku reguk

Unsur Ekstrinsik

1. Pengalaman hidup sastrawan

Soorjo Sani S. lahir di kota Solo 20 Januari, anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Aktif menulis puisi sejak di bangku SMU. Selain itu juga menulis naskah drama, skenario (sinetron/film), menjadi sutradara teater dan beberapa film dokumenter maupun independen. Ketika Aku Mencintai adalah kumpulan puisinya tahun 2000-2003

2. Pendidikan sastrawan

Mendapat gelar kesarjanaan di Fakultas Sastra Universitas Indonesia

DRAMA

Sebelum Sembahyang

Oleh Kecuk Ismadi C. R.

Lokasi di sebuah gang yang sepi dekat sebuah masjid pada sebuah desa. Terdengar kentongan dan bedug dipukul orang, lalu disusul suara adzan.

Copet III : “Itu suara apa?”

Copet II : “Suara orang adzan.”

Copet I : “Apa? Suara orang edan?”

Copet II : “Adzan, Goblok!”

Copet I : “Apa?” (Meniling-nilingkan kepala)

Copet II : “Adzan, tuli?”

Copet I : “Oh, orang adzan. Adzan itu apa toh?”

Copet III : “Adzan itu panggilan untuk menjalankan sembahyang. Iya

kan? Benar kan?”

Copet II : “Ho-oh!”

Copet I : “Adzan! Adzan! Wah baru kali ini aku dengar istilah itu.

Kok, hampir sama, ya? Adzan! Edan!”

Copet IV : “Husss, Dosaaaa! Dosa lho,kamu.”

Copet I : “Lho, kok dosa? Ini kan fakta? Kata adzan aku memang

jarang mendengar. Lha, kalau kata edan mah itu sering

aku dengar. Waktu aku masih di asrama.”

Copet III : “Wah, gaya! Jadi kamu pernah tinggal di asrama?”

Copet I : “Jelas, dong! Dilihat tampangku kan kelihatan.”

Copet IV : “Mana, sih asramamu?”

Copet I : “Wah asrama saya sangat ngetop!”

Copet II : “Lha iya, mana? Di mana itu?”

Copet I : “Di...mana, ya? Kalau tidak salah di Pakem.”

Copet II, III, IV : “Oooooo, Pakem?! Pantas, pantas.” (Tertawa)

Copet I : “Kenapa kalian saling tertawa, ha? Kenapa? Ha? Kenapa?

Copet III : “Jebolannya pensiunan wong edan! Hahahaha bekas orang gila. (Saling tertawa) Jebolan rumah sakit jiwa.”

Copet I : “Siapa yang pensiunan wong edan?”

Copet IV : “Lha, ya kamu itu! Lah kalau bukan kamu siapa? Saya? Ah

nggak pantas dong. Saya kan cocoknya jadi presiden.”

Copet II : “Saya cocoknya jadi perdana menteri luar negeri.”

Copet III : “Kalau saya cocoknya jadi dramawan besar. Seperti

Shakespeare, Anton Chekov, Stainslavky, atau paling

tidak Rendra.”

Copet I : (Tersenyum-senyum) “Kalau saya... kalau saya... cocoknya

jadi ..., jadi ...”

Copet II : “Ya, jadi wong edan!” (Semuanya tergelak-gelak)

..........................

Sumber : Kumpulan Drama Remaja, 1991 : 61-62

ANALISIS

Unsur Intrinsik :

1. Tema :

Perbincangan sesama copet

2. Amanat :

Dari drama diatas dapat disimpulkan bahwa amanat yang dapat kita ambil yaitu Introspeksi diri dulu lah sebelum menilai sesuatu hal.

3. Alur / Plot :

Cerita drama ini beralur tunggal, sederhana dan mudah diikuti. Cerita pada drama ini diawali di sebuah gang kecil dekat masjid di suatu desa berkumpulah sekelompok copet yang sedang bersenggama antar satu dengan yang lain. Di lain sisi, di sebuah masjid terdengar kumandang adzan, salah satu pencopet itu mencela bercanda mengenai adzan tersebut, lalu terjadilah perdebatan kecil tentang apa itu adzan dan bersunda guaru.

4. Latar / setting :

Tempat : Sebuah gang kecil dekat sebuah masjid pada sebuah desa

Waktu : Sebelum adzan

Lokasi di sebuah gang yang sepi dekat sebuah masjid pada sebuah desa. Terdengar kentongan dan bedug dipukul orang, lalu disusul suara adzan.

5. Tokoh dan Penokohan

Copet I : Nakal, ngelantur, dan sok tahu

Copet I : “Apa? Suara orang edan?”

Copet II : Tidak sabar, mudah terbawa emosi

Copet II : “Adzan, Goblok!”

Copet III : Pemimpi

Copet III : “Kalau saya cocoknya jadi dramawan besar. Seperti Shakespeare, Anton Chekov, Stainslavky, atau paling tidak Rendra.”

Copet IV : Baik, Pemimpi

Copet IV : “Husss, Dosaaaa! Dosa lho,kamu.”

0 komentar:

Poskan Komentar